Showing posts with label About Neko. Show all posts
Blog, dan Kampus
Holaaaa......
Ahhh... udah lama rasanya gak buat catetan pribadi di Blog. Blog udah berlumut, dan bersarang laba-laba. dan sekalinya buka Blog malah mengganti ini itu. Aku benar-benar minta maaf :"
dan aku benar-benar menyesal, terlebih lagi aku bakal tambah sibuk...
oh ya! mungkin kalian bertanya-tanya kenapa gak pakai panggilan Neko lagi? a-aku malu... *Blush* udah kuliah masa m-manggil diri sendiri kaya begitu. Hayati bener-bener malu bang, mba...
Dan aku bersyukur walau ganti Nama Blog gak ada yang protes minta acara syukuran. Uangku... Uang... ahhh... Saya gak punya uang, saya aja masih pusing mikirin nilai dan beasiswa untuk kuliah..
yang tau info beasiswa kontek-kontek saya ya *wink*
Tapi rasanya memang lelah ya, kalo jadi mahasiswa. Waktu tidurku jadi sedikit banget... hhahhh....
Ahh!! Saya lupa, saya belum kasih tau saya kuliah dimana. sekarang saya kuliah di UHAMKA ( Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ).
Ahhh... udah lama rasanya gak buat catetan pribadi di Blog. Blog udah berlumut, dan bersarang laba-laba. dan sekalinya buka Blog malah mengganti ini itu. Aku benar-benar minta maaf :"
dan aku benar-benar menyesal, terlebih lagi aku bakal tambah sibuk...
oh ya! mungkin kalian bertanya-tanya kenapa gak pakai panggilan Neko lagi? a-aku malu... *Blush* udah kuliah masa m-manggil diri sendiri kaya begitu. Hayati bener-bener malu bang, mba...
Dan aku bersyukur walau ganti Nama Blog gak ada yang protes minta acara syukuran. Uangku... Uang... ahhh... Saya gak punya uang, saya aja masih pusing mikirin nilai dan beasiswa untuk kuliah..
yang tau info beasiswa kontek-kontek saya ya *wink*
Tapi rasanya memang lelah ya, kalo jadi mahasiswa. Waktu tidurku jadi sedikit banget... hhahhh....
Ahh!! Saya lupa, saya belum kasih tau saya kuliah dimana. sekarang saya kuliah di UHAMKA ( Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ).
Kenapa di Swasta? Kenapa gak di Negeri? awalnya saya memang udah
berusaha di Negeri sampai Muak! bener-bener Muak rasanya, walau gak
begitu ambil pusing. tapi tetap saja saya udah lelah dengan Negeri.
Awalnya saya memang menjadikan UHAMKA sebagai pelarian saya, tapi
setelah saya pikir-pikir mungkin ini memang jalan saya. Dan kenapa harus
malu dengan Almamater sendiri? Toh setidaknya kampus saya tidak terlalu
buruk di mata publik. Masih bisa bersaing dengan Kampus-kampus Negeri.
Yang terpenting itu apa yang ada di dalam kepala kita kok.
Dan bila saya mengatakan apa Prodi saya, saya yakin pasti kalian akan bertanya-tanya. karena kenapa? kalo kalian liat dengan apa yang saya post di Blog saya, pasti kalian akan mengira saya mengambil Sastra atau pun Pendidikan Bahasa Jepang! pasti! karena saya memang masih ada niat untuk memberikan Edukasi tentang bahasa Jepang lho! walau gak sampai Kanji ya :"
Tapi... Tapi... saya juga punya mimpi lain, kenapa saya mengambil jurusan ini. Saya mengambil sebuah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHAMKA.
Tempatnya, di Kamp. Rambutan. Pasar Rebo, jl. Tanah Merdeka (kapan-kapan main ke sana dan ketemu Neko ya ;) ). Lalu kira-kira apa yang saya ambil? gak jauh-jauh dari bahasa kok. Dan apa itu? itu... Itu adalah bahasa Indonesia!! Yeeeaaayyyy.....
Bahasa Indonesia!?? wuaattt??? kenapa??!! pasti kalian bakal berpikir, "Mau jadi apa?" "Kenapa ambil jurusan bahasa lokal?" "yaelah... udah bisa Indonesia, masih aja ngambil Indonesi. atau emang lu gak bisa Indonesia? ppfftt"
Tolonglah... buat kalian yang memandang pelajaran bahasa Indonesia sebagai hal yang mudah dan gampang, pernahkah kalian dapat Indonesia dengan sempurna secara terus menerus? pernahkan kalian telah memahaminya benar-benar? Saya mengakui kalo saya masih bodoh di bahasa sendiri dari pada bahasa Jepang saat SMA dulu! ahh... sedih rasanya kalo ingat hal itu.
Ahhh..., Niatnya mau cerita tentang OSPEK dan Tragedi yang aku dapat saat pulang dari kosan temen :"
tapi mau nyiapin materi buat besok, jadi kapan-kapan aja kalo udah sempet... doain biar Neko lancar ngeblog ya :*
*digamparin*
tapi mau nyiapin materi buat besok, jadi kapan-kapan aja kalo udah sempet... doain biar Neko lancar ngeblog ya :*
*digamparin*
Radom Curhatan Hati Yuki (Bagian ke 2)
Tempat yang nyaman,
aman, damai dan selalu membuat kita rindu. Tempat yang bagaikan surga kecil dimana kita berlindung. Tempat dimana kita saling menyayangi, mengasihi dan berbagi. Tempat dimana munculnya keceriaan, tawa, tangis, haru dan kesal.
Tempat yang kita sebut RUMAH.
Tapi. . .
Bagaimana bila tempat yang bagaikan sugar kecil, menjadi neraka?
Dimana semua perasaan nyaman, aman dan damai berubah menjadi hal yang hampa dan menakutkan. Dimana rasa mengasihi, menyayangi dan berbagi menjadi siksaan, keegoisan dan kemarukan. Dimana tawa, keceriaan dan haru hilang, hanya menyisakan kesedihan dan kekesalan.
Di saat orang yang kita anggap paling mengerti dan memiliki ikatan yang buat, yang selalu kita sebut Ayah dan Ibu. Menjadi membenci, dan engga mengetahui apa yang kita rasa. Lebih buruknya membuang ikatan kita. Ikatan begitu kuat, namun dibuang begitu saja.
Lalu di saat orang yang kita anggap akan selalu melindungi, menjaga dan membantu kita yang selalu kita sebut Kakak menjadi tidak peduli, acuh dan enggan membantu saat dalam kesulitan.
Dan. . .
Di saat orang yang kadang menurut, dan menjadi teman bercanda yang kita sebut Adik. Menjadi pembangkang dan menganggap kita tidak ada atau bahkan Mati.
Apakah hal itu yang selalu membuat kita berkata.
"Keluarga temanku mah enak", "lah kamu tidak seperti keluargaku" atau bahkan "TUHAN TIDAK ADIL!! Aku hanya ingin keluarga yang selalu mengerti aku! Dan menyayangiku!".
Atau malah ini?
"Apa salahku? Kenapa tidak ada yang menyukaiku? Kenapa mereka serti itu? Ahh. . . . Apa lebih baik aku mati saja? Atau membunuh mereka?"
Saat kau sebut Surga, sebenarnya Neraka. Saat kau bilang Sejuk ternyata Panas.
Fananya. . .
Amat sangat Fana dunia ini. Tidak ada perasaan yang abadi, tidak ada nyawa abadi. Yang ada hanya ikatan batin yang di putus paksa
aman, damai dan selalu membuat kita rindu. Tempat yang bagaikan surga kecil dimana kita berlindung. Tempat dimana kita saling menyayangi, mengasihi dan berbagi. Tempat dimana munculnya keceriaan, tawa, tangis, haru dan kesal.
Tempat yang kita sebut RUMAH.
Tapi. . .
Bagaimana bila tempat yang bagaikan sugar kecil, menjadi neraka?
Dimana semua perasaan nyaman, aman dan damai berubah menjadi hal yang hampa dan menakutkan. Dimana rasa mengasihi, menyayangi dan berbagi menjadi siksaan, keegoisan dan kemarukan. Dimana tawa, keceriaan dan haru hilang, hanya menyisakan kesedihan dan kekesalan.
Di saat orang yang kita anggap paling mengerti dan memiliki ikatan yang buat, yang selalu kita sebut Ayah dan Ibu. Menjadi membenci, dan engga mengetahui apa yang kita rasa. Lebih buruknya membuang ikatan kita. Ikatan begitu kuat, namun dibuang begitu saja.
Lalu di saat orang yang kita anggap akan selalu melindungi, menjaga dan membantu kita yang selalu kita sebut Kakak menjadi tidak peduli, acuh dan enggan membantu saat dalam kesulitan.
Dan. . .
Di saat orang yang kadang menurut, dan menjadi teman bercanda yang kita sebut Adik. Menjadi pembangkang dan menganggap kita tidak ada atau bahkan Mati.
Apakah hal itu yang selalu membuat kita berkata.
"Keluarga temanku mah enak", "lah kamu tidak seperti keluargaku" atau bahkan "TUHAN TIDAK ADIL!! Aku hanya ingin keluarga yang selalu mengerti aku! Dan menyayangiku!".
Atau malah ini?
"Apa salahku? Kenapa tidak ada yang menyukaiku? Kenapa mereka serti itu? Ahh. . . . Apa lebih baik aku mati saja? Atau membunuh mereka?"
Saat kau sebut Surga, sebenarnya Neraka. Saat kau bilang Sejuk ternyata Panas.
Fananya. . .
Amat sangat Fana dunia ini. Tidak ada perasaan yang abadi, tidak ada nyawa abadi. Yang ada hanya ikatan batin yang di putus paksa
Radom Curhatan Hati Yuki
Saat terdasar untuk menyukaimu lagi, ternyata itu salah. Memang tak
seharusnya jatuh cinta kepada orang yang sama. Terlebih lagi saat
mengetahui bahwa perasaan dan ucapannya itu bohong(mungkin iya atau
tidak).
Ah. . . Mungkin sang pembohong kecil pantas mendapatkan kepalsuan sebagai balasannya. Harapan yang terkubur, dan dinding besar yang terus dipoles agar tidak runtuh saat melindungi hati rapuhnya.
Begitu besar harapan sang gadis. Menemukan setitik cahaya ditengah kabut yang terkadang membutakan mata, dan menyesatkan hatinya. Saat berpikir dia menemukan cahaya ternyata hanya kunang-kunang kecil yang tersesat dan mati dalam genggaman sang gadis.
Sendiri.
Gelap.
Dan Hampa.
Tubuhnya yang terus di paksa agar tegar, dan mengeraskan hatinya. Hanya membuatnya tersesat dan semakin jauh dari cahaya.
"Kehidupan yang Fana, tidak menyuruhmu untuk bersikap tegar dan terus berbohong. Sesekali menangislah bila itu diperlukan, dan sedikit jujur terhadap perasaanmu tidak seburuk yang kau bayangkan. Mungkin bisa saja, orang yang tulus menyukaimu akan menyelamatkanmu. Tapi aku tidak yakin terhadap orang yang sama. . ."
karena kita tidak akan tau Ending apa yang diciptakan Tuhan, dan apa yang akan kita dapat.
Ah. . . Mungkin sang pembohong kecil pantas mendapatkan kepalsuan sebagai balasannya. Harapan yang terkubur, dan dinding besar yang terus dipoles agar tidak runtuh saat melindungi hati rapuhnya.
Begitu besar harapan sang gadis. Menemukan setitik cahaya ditengah kabut yang terkadang membutakan mata, dan menyesatkan hatinya. Saat berpikir dia menemukan cahaya ternyata hanya kunang-kunang kecil yang tersesat dan mati dalam genggaman sang gadis.
Sendiri.
Gelap.
Dan Hampa.
Tubuhnya yang terus di paksa agar tegar, dan mengeraskan hatinya. Hanya membuatnya tersesat dan semakin jauh dari cahaya.
"Kehidupan yang Fana, tidak menyuruhmu untuk bersikap tegar dan terus berbohong. Sesekali menangislah bila itu diperlukan, dan sedikit jujur terhadap perasaanmu tidak seburuk yang kau bayangkan. Mungkin bisa saja, orang yang tulus menyukaimu akan menyelamatkanmu. Tapi aku tidak yakin terhadap orang yang sama. . ."
karena kita tidak akan tau Ending apa yang diciptakan Tuhan, dan apa yang akan kita dapat.
Powered by Blogger.

